Puncak Teror Valak, Ada 6 Kelebihan & Kekurangan dari The Nun | Liputan 24 Indonesia
Kirim Liputan Nasional: Klik Disini | Konfirmasi Liputan Nasional: Klik Disini

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Puncak Teror Valak, Ada 6 Kelebihan & Kekurangan dari The Nun

By On 12:30 AM



Akhirnya film horor yang telah lama dinanti-nantikan ini hadir juga di bioskop. The Nun, spin-off dari franchise The Conjuring mulai tayang di Indonesia sejak 5 September kemarin. 

Film yang membahas asal-usul Valak ini dibintangi Taissa Farmiga, Demian Bichir, dan Bonnie Aarons. IDN Times telah menyaksikan film yang ramai diantisipasi ini dan merasa ada 6 kelebihan dan kekurangan dari The Nun.

1. Nuansa gothic dan gelap yang terbangun dengan baik

The Nun ber-setting di sebuah kompleks gereja kuno di pedalaman Rumania. Boleh dibilang Corin Hardy dan tim berhasil menghidupkan suasana gothic dari gereja angker ini. Selain setting background dan suasana yang on point, musik yang dipakai pun sangat menunjang atmosfer The Nun.

2. Akting apik dari para pemeran utama

Taissa Farmiga dan Demian Bichir juga tak mengecewakan dalam peran mereka sebagai Suster Irene dan Pastur Burke. Keduanya dikirim oleh Vatikan untuk menginvestigasi fenomena aneh yang berlangsung di Biara Carta. 

Taissa mampu menunjukkan penjiwaan yang tak kalah dengan sang kakak Vera Farmiga, pemeran Lorraine Warren dari franchise film yang sama. Demian Bichir sendiri terhitung berhasil mewujudkan sosok pendeta berpengalaman yang dihantui masa lalunya. 

Selain itu ada pula penampilan menarik dari Jonas Bloquet pemeran Frenchie, tokoh yang berhasil merebut hati penonton. Karakternya sukses memercikan sedikit humor yang membuat penikmat film semakin terhibur.

Dan tak lupa, penampilan keren Bonnie Aarons yang bertransformasi menjadi Valak. Tanpa dialog panjang ia tetap mampu mengguncang mental penonton. 

3. Menghidupkan kembali horor religi yang sempat populer lewat 'The Exorcist' dan 'The Omen'

Penggemar genre horor pasti tak asing lagi dengan film-film legendaris ini. The Exorcist disebut-sebut sebagai ikon film horor dengan tema religi. Sakralnya hubungan antara manusia dan Tuhan yang kerap diusik oleh gangguan iblis jadi topik yang menarik dan terasa dekat dengan banyak penonton. 

The Nun kembali mengangkat premis yang menyentuh hati banyak penikmat horor ini. Kalaupun tidak relateable, paling tidak horor bertema religi selalu sukses memicu rasa penasaran. 

4. Tak ada tujuan yang jelas dari teror Valak ini

Oke, Valak mungkin memang sosok yang mengerikan. Setiap kemunculannya akan diwarnai aneka fenomena tak wajar. Salib-salib akan terbaik, semua cahaya akan padam, dan ia akan menunjukkan wajah seramnya dari tempat-tempat tak diduga. 

Tapi untuk apa?

Tak dijelaskan dengan baik apa yang jadi tujuan Valak menghantui katedral tersebut. Urgensi apa yang membuat kita harus peduli dengan teror yang disebarnya. Cara kerja para suster yang tersisa juga tak punya dasar kuat. Semuanya seolah tanpa fokus yang jelas dan membingungkan.

Asal-usul Valak juga ternyata tak serumit dan sekelam yang dibayangkan selama ini. Kurangnya elemen emosional dalam latar belakang si iblis membuat cerita semakin terasa jauh dari hati penonton. 

5. Hanya mengandalkan jump scare tanpa meninggalkan kesan mendalam

alam film horor, jump scare tidak selamanya buruk. Jump scare sudah jadi salah satu komponen mendasar dalam genre ini. Akan tetapi jika hanya terlalu mengumbar jump scare tanpa elaborasi cerita yang mumpuni, lama-lama penonton akan kebas juga. 

Itulah yang saya rasakan. Di awal jantung masih terpacu menantikan kejutan yang disiapkan oleh Valak. Namun, lambat laun yang tertinggal hanya rasa kaget dan kesal. Setelah terbiasa dengan raut wajah sangar Valak, Anda mungkin akan mulai tertawa geli. Seperti yang saya alami. 

6. Banyak kegagalan logika yang mengganggu benak penonton

Sulit bagi saya sebagai penonton untuk merasa relateable, atau mengerti horor yang dirasakan para tokoh utama. Ada sejumlah adegan yang terlalu lompat-lompat dan tak mengalir, kesannya hanya demi menunjukkan adegan seram belaka. 

Berbeda dengan beberapa film The Conjuring terdahulu yang membuat saya merasakan kepanikan dari sang tokoh karena teror yang ditunjukkan pun terkesan alami dan wajar (walaupun tentu saja tak ada yang wajar dalam dunia supranatural). 

Para tokoh juga berulang kali mengulangi kesalahan serupa dan melakukan kesalahan klise dalam setiap film horor picisan. Satu lagi, tampaknya misi Valak dan iblis lain dalam film ini hanya mencengkram tubuh sang tokoh utama untuk mendengar mereka menjerit lalu melepaskannya begitu saja.

Meski begitu, The Nun tetap jadi tontonan yang menarik kok untuk menghiburmu. Apalagi ditonton bersama sahabat atau orang terkasih. Deg-degan bareng katanya bisa menyuburkan rasa cinta lho! Yuk tonton The Nun di bioskop favoritmu.

Mau tau cara belajar public speaking secara efektif ? Klik Disini
Sumber : idntimes

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »