GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

{fbt_classic_header}

Anjloknya mata uang berujung tudingan ke AS

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Foto: BBC World
Anjloknya mata uang lira telah menimbulkan kekhawatiran adanya krisis ekonomi. Krisis ini pun dikhawatirkan bisa merambat ke negara-negara berkembang lainnya maupun sistem perb…

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Foto: BBC WorldPresiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Foto: BBC World  
Anjloknya mata uang lira telah menimbulkan kekhawatiran adanya krisis ekonomi. Krisis ini pun dikhawatirkan bisa merambat ke negara-negara berkembang lainnya maupun sistem perbankan di Eropa.

Amerika Serikat menerapkan sanksi terhadap Turki minggu lalu atas penolakan negara itu mengekstradisi penceramah Amerika yang dipenjara di sana. Pelemahan mata uang lira telah mencapai 66% sejak awal tahun 2018. Lira mencapai rekor terendah 6,24 per dolar pada Jumat pekan lalu. Kondisi ini diperparah dengan memburuknya hubungan Turki dengan Amerika Serikat.

Sanksi itu menyebabkan pasar anjlok dan bank sentral telah berusaha mengambil sejumlah langkah menenangkan pasar namun tak berhasil. Anjloknya mata uang negara di kawasan Eurasia itu rupanya dipicu oleh ketergantungan modal dan utang asing yang sangat besar. Utang berdenominasi dolar AS, baik yang berjangka pendek maupun panjang tersebut semakin lama kian menggunung.

Lira telah jatuh pada kekhawatiran atas meningkatnya kontrol Presiden Tayyip Erdogan atas ekonomi dan memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat. Itu jatuh sebanyak 12 persen pada satu tahap pada hari Senin, kemudian pulih pada kerugian sebesar 8,5 perse
Erdogan mengatakan dalam jumpa pers di ibu kota Ankara, "Anda bertindak di satu sisi sebagai mitra strategis namun di pihak lain, Anda melepaskan tembakan ke kaki mitra strategismu." ujar Erdogan.