Pendukung timnas Senegal di Indonesia: Dari bisnis batik hingga ... | Liputan 24 Indonesia
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Pendukung timnas Senegal di Indonesia: Dari bisnis batik hingga ...

Posted by On 5:58 PM

Pendukung timnas Senegal di Indonesia: Dari bisnis batik hingga ...

Pendukung timnas Senegal di Indonesia: Dari bisnis batik hingga diteriaki 'orang hitam'

senegal, sepak bolaHak atas foto AFP/SEYLLOU
Image caption Seorang suporter Senegal mengibarkan bendera di Dakar, ibukota Senegal.

Puluhan pria Senegal melompat kegirangan saat M'Baye Niang memasukkan bola ke gawang Polandia, membuat kedudukan 2-0 di menit ke-60 pada pertandingan penyisihan Grup H Piala Dunia 2018, 19 Juni 2018.

Sebagian dari mereka menonton pertandingan dengan mengenakan kostum utama tim nasional Sen egal, berwarna putih dengan garis hijau di bahu. Ada yang mengenakan gamis panjang, lengkap dengan peci.

  • Kostum 32 negara peserta Piala Dunia 2018: Mulai klasik, warna-warni hingga sederhana
  • Piala Dunia 2018: Jepang main cepat, bagaimana Kolombia siapkan strategi?
  • 'Kegilaan' dan keunikan suporter Piala Dunia 2018 di Rusia dalam Galeri Foto

Sambil menonton, mereka minum ataya, teh khas Senegal yang dibuat dengan cara menuangkan airnya dari ketinggian tertentu secara berkali-kali hingga muncul busa di gelas teh mini.

Teriakan kegembiraan terdengar dalam Prancis, bercampur bahasa wolofdan mandinka├ó€"dua bahasa daerah di Senegal├ó€"ketika akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Senegal dengan skor 2-1. Mereka semua berpelukan dan bersalaman satu sama lain.

Keriaan ini terjadi bukan di Senegal, tapi di kantor sebuah perusahaan Senegal di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Suporter Senegal di Jakarta Pusat, tak hanya dari Senegal tapi juga negara-negara Afrika Barat lainnya seperti Gambia dan Mali.

"Komunitas Senegal di Indonesia yang ada di Jakarta sekitar 40 orang, hampir semuanya pebisnis," kata Sulaimane Badjie, Ketua Komunitas Senegal di Indonesia saat ditemui BBC Indonesia.

Kantor pria berusia 52 tahun ini menjadi salah satu tempat mereka berkumpul seusai kerja untuk makan bersama atau menonton bola, terutama saat Piala Dunia berlangsung.

Sulaimane yang sangat lancar berbahasa Indonesia dengan sedikit logat Betawi, menjelaskan bahwa acara menonton bola bersama menjadi sedikit pengobat rindu terhadap suasana di Senegal pada saat Piala D unia. Euforia bisa dirasakan di seluruh kota, bahkan seluruh negara.

Piala Dunia di Rusia adalah kali kedua Senegal berlaga di Piala Dunia, setelah kemunculan mereka di Piala Dunia 2002. Saat itu Senegal lolos hingga ke babak perdelapan final, sampai dikalahkan oleh Turki.

Salah satu pemain Senegal di Piala Dunia 2002 itu, Aliou Cisse, kini menjadi pelatih tim berjuluk "Singa Teranga" ini. Aliou adalah satu-satunya pelatih berkulit hitam di Piala Dunia 2018.

"Di Senegal pasti ramai, semua berkumpul di ruangan besar. Kalau gol semua keluar, berlarian. Setelah menang, semua keluar di jalanan, berjalan kaki, atau naik kendaraan dan merayakan di jalan," kata Sulaimane, mengenang perayaan setiap kemenangan Senegal di Piala Dunia sebelumnya.

Piala Dunia bukan hanya semata-mata pertandingan sepak bola bagi warga Senegal yang tinggal di Indonesia. Piala Dunia adalah kebanggaan, dan kerinduan akan rumah.

"Kalau ada keinginan yang bisa d ijadikan kenyataan, itu adalah pulang ke Senegal sekarang," kata Muhammad Bathily (37 tahun), salah satu warga Senegal yang membuka kantornya di sebelah kantor Sulaimane.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sulaimane Bathily, warga negara Senegal di Indonesia.

Berawal dari bisnis

Sulaimane sudah tinggal di Indonesia selama 15 tahun, dan Muhammad 13 tahun. Mereka datang untuk bisnis, menjual produk dari Indonesia ke negara-negara di Afrika.

Muhammad dan Sulaimane punya perusahaan yang mengekspor barang-barang Indonesia ke Afrika. Mereka mengirim beraneka barang mulai dari pakaian jadi, minyak goreng, biskuit, kayu sampai lukisan.

Muhammad mengirim garmen ke lima negara, Pantai Gading, Kongo, Togo, Mali dan Senegal. Pakaian yang paling banyak dijualnya adalah baju bola dan batik.

"Setiap bulan, saya sendiri menjual kira-kira 7.000 lusin, baju bola, baju bayi dan batik," kata dia.

Rupanya batik makin diminati di negara-negara di Afrika. Muhammad memesan batiknya secara khusus ke Pekalongan dan Solo.

Meski demikian, Sulaimane dan Muhammad merasakan bisnis di Indonesia semakin sulit.

"Sekarang makin sepi karena harganya naik parah, misalnya dulu barang harganya Rp100 ribu, sekarang jadi Rp180 ribu," kata Muhammad.

Salah satu alasan turunnya omset bisnis Sulaimane adalah karena persaingan dengan negara lain. Banyak pelanggannya, yang berasal dari Mali, Senegal, Burkina Faso, Nigeria sampai Niger, memilih untuk membeli barang dari Cina.

"Dulu sebulan saya bisa mengirim dua kontainer barang, tapi sekarang setiap tahun selalu menurun," kata Sulaimane. Meski demikian, dia tak ingin memindah kan bisnisnya ke Cina.

Hak atas foto AFP/ISSOUF SANOGO
Image caption Tim Senegal sedang berlatih untuk mempersiapkan pertandingan kedua melawan Jepang.

Sesama negara mayoritas Islam

Alasan utama Muhammad dan Sulaimane betah tinggal di Indonesia dan tak ingin memindahkan bisnisnya ke negara lain adalah karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

"Indonesia sama seperti di Senegal yang mayoritas muslim, meskipun di Senegal kami mengikuti Imam Maliki sementara Indonesia Syafii," kata Sulaimane yang saat diwawancara mengenakan gamis warna ungu dan peci putih.

Senegal, seperti juga Indonesia, adalah negara yang lebih dari 90% penduduknya beragama Islam meskipun bukan negara Islam.

"Di Indonesia Islamnya bagus, bisa salat lima waktu berjamaah, Alhamdulillah," kata Sulaimane.

Tak jauh dari kantornya, ada dua masjid yang biasa mereka pakai untuk salat berjamaah. Di Indonesia, Muhammad mengaku bisa beribadah dengan lebih baik karena lingkungannya lebih mendukung.

Menurutnya, Komunitas Senegal di Jakarta saling mendukung dan mengingatkan untuk beribadah. "Kalau waktu salat tidak ke masjid, pasti kamu malu. Di sini komunitasnya 99% pasti ikut ke masjid untuk salat lima waktu," kata Muhammad.

Di Senegal, dia menjelaskan, letak masjid agak berjauhan sehingga biasanya dia hanya dapat salat berjamaah ke masjid dua kali sehari.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sulaimane Badjie bersama contoh barang-barang yang dia jual.

"Rasisme itu wajib"

Sebagai warga Afrika yang tinggal di Indonesia, mereka seringkali menemui kesalahpahaman.

"Ada yang tidak tahu kalau di Afrika ada negara-negara, dikiranya Afrika cuma satu negara. Ada juga yang langsung menuduh saya orang Nigeria, karena tidak tahu negara lain," kata Sulaimane.

Muhammad kerap kali ditanya, orang Afrika makannya apa. "Saya jawab, ya manusia kan makannya sama. Kami makan nasi juga, tapi bedanya kalau di Senegal kami makanan utamanya nasi dan roti, kalau di Indonesia nasi dan Indomie ya," kata dia.

Saat ditanya pernahkah mengalami rasisme di Indonesia, Muhammad tertawa dan mengatakan bahwa "ya, rasisme itu wajib".

"Semua orang Senegal di sini pasti pernah dikatain 'orang hitam'. Tapi memang tidak salah kalau ada orang bilang saya orang hitam," katanya.

"Kalau kita menganggap itu sebagai rasisme, kita capek sendiri," kata dia.

"Saya tidak pernah cerewet sama orang seperti itu, tidak pernah diambil hati. Dia memang tidak salah, karena orang hitam ya memang hitam," kata Muhammad sambil menunjuk kulit lengannya.

Sulaimane pun punya cerita yang serupa. "Kadang-kadang saya sedang jalan ke mana, lalu ada orang teriak 'orang hitam!'. Itu pasti ada," kata dia.

Tapi dia tidak menganggap itu sebagai rasisme. "Itu sama aja seperti kalau ada orang kulit putih lalu dibilang 'bule, bule', nah kalau orang Indonesia bilang 'orang item, orang item'," kata Sulaimane.

  • Dari Sabang sampai Afrika: Menjejak klaim Indomie di Nigeria
  • Pilot maskapai Israel 'menolak menerbangkan para pengungsi Afrika'
  • Galeri seni yang menjadi masa depan seni kontemporer Afrika
Hak atas foto Getty Images
Image caption Timnas Senegal diperkuat Sadio Mane, pemain yang juga membela klub Inggris, Liverpool.

Namun beberapa kali mereka mengalami perlakuan berbeda karena warna kulitnya.

Salah satu contohnya adalah ketika Muhammad sedang mencari rumah untuk disewa. Pemilik rumah mengatakan tidak mau menyewakan kepada 'orang kulit hitam'.

"Ya tidak apa-apa, tidak salah orangnya, semua orang berbeda apa yang dia suka," kata Muhammad.

Meski betah tinggal di Indonesia, Sulaimane dan Muhammad tetap ingin pulang kembali ke Senegal jika telah tiba masanya pensiun.

"Karena kami ada adat, orang yang lebih tua meskipun tinggal di luar negeri harus kembali ke rumah, menjaga semua keluarga dari adik sampai yang sudah meninggal. Harus ada satu orang yang pasang badan untuk menjadi kepala keluarga," kata Muhammad.

Hingga saat itu tiba, mereka tetap mendukung tanah airnya dari jauh. Mereka akan terus menonton pertandingan Senegal bersama-sama. Keduanya optimististis, bahwa Senegal bisa menjuarai Piala Dunia.

"Tentu saja kami mendukung mama sendiri, Senegal. Insya Allah kami doakan dia dari jauh, mudah-mudahan bisa jadi juara," tutup Muhammad.

Di klasemen sementara Grup H Piala Dunia 2018, Senegal mengoleksi tiga poin, sama dengan Jepang.

Jika Senegal mampu menumbangkan Jepang di Stadion Central, Kota Yekaterinbug, pada Minggu (24/6) malam WIB, maka tim berjuluk 'Singa Teranga' ini akan memimpin klasemen Grup H dan hampir dipastikan lolos ke babak 16 besar.

Sumber: Google News Network: Liputan 24 Indonesia | Berita 24 Indonesia | Warta 24 Indonesia

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »